Selasa, 06 Maret 2012

Plagiat ala calon Profesor

Pengajuan calon guru besar dari Universitas Pendidikan Indonesia ke Dirjen Pendidikan Tinggi ditolak. Alasan penolakan karena salah satu dari tiga karya tulis yang diajukan ditengarai menjiplak disertasi doktoral mahasiswa S3 Unpad. Bagi dunia pendidikan tindakan plagiasi adalah sesuatu yang diharamkan. Pelakunya tidak berhak lagi berkecimpung sebagai pendidik, karena sudah kehilangan ruh dan kewibawaan sebagai seorang pendidik. Tiada lain bagi mereka harus mengundurkan diri.

Senin, 05 Maret 2012

Keramat

Hai Manusia, hormati ibumu
yang melahirkan dan membesarkanmu
Darah dagingmu dari air susunya
Jiwa ragamu dari kasih sayangnya
Dialah manusia satu-satunya
yang menyayangimu tanpa ada batasnya

Doa ibumu dikabulkan Tuhan
dan kutukannya jadi kenyataan
Ridlo Ilahi karena ridlonya
Murka Ilahi karena murkanya
Bila kau sayang pada kasihmu
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau takut pada rajamu
lebih takutlah pada ibumu

Bukan lautan tempat kau meminta
Bukanlah gunung tempat kau memuja
Bukan kuburan tempat engkau menghiba
Bukan pula dukun tempat memohon doa
Tiada keramat yang ampuh di dunia
selain dari doa ibumu jua

(Dipopulerkan oleh H. Rhoma Irama)

Minggu, 26 Februari 2012

Sekolah Unggulan Untuk Semua


Pada saat ini semakin banyak sekolah baik negeri ataupun swasta yang berlabel sekolah unggulan. Keunggulan yang lebih mengacu pada kelebihan-kelebihan dan prestasi siswa-siswinya di bidang akademik.
             Semua sekolah berhak menyebut dirinya dan menyandang status sebagai sekolah unggulan, wajar dan sah-sah saja. Namun apabila hanya mengacu kepada keunggulan di bidang  sains semata, maka sekolah tersebut sudah menafikan realitas yang ada, bahwa keunggulan tidak hanya milik orang-orang yang memiliki kelebihan di bidang akademik, khususnya sains atau eksakta semata.
Apabila mengacu kepada penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli diantaranya Dr. Howard Gardner dari Harvard University tentang kecerdasan yang dimiliki manusia, terdapat delapan jenis kecerdasan yaitu kecerdasan liguistik/bahasa, kecerdasan logis/matematis, kecerdasan visual/spasial, kecerdasan kinestetis/jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Mengingat potensi yang dimiliki manusia yang tidak homogen, melainkan beragam maka tentu saja keunggulan yang dimiliki sekolah pun tidak hanya mengacu kepada satu bidang saja. Seperti halnya manusia, setiap sekolah akan mempunyai karakteristik dan potensi yang berbeda-beda, tergantung dari karakteristik dan potensi yang dimiliki oleh siswa-siswinya. Kalau selama ini sekolah unggulan mengedepankan bidang akademik khususnya sains, karena input yang diperoleh berasal dari seleksi yang mengedepankan bidang akademik semata. Lalu bagaimana dengan sekolah-sekolah yang yang kurang memiliki keunggulan secara akademik? Apakah mereka tidak dapat menjadi sekolah unggulan? Tentu saja tidak demikian, akan banyak sekali sekolah-sekolah unggulan di bidang lain. Misalnya ada sekolah yang memiliki keunggulan dalam bidang musik, olahraga, seni, sains, teknologi, kewirausahaan, lingkungan hidup, Paskibra, kepramukaan, atau keterampilan dan kreativitas lainnya yang akan menjadi bekal bagi kehidupan siswa-siswinya di masa yang akan datang. Dengan kata lain anak didik dipersiapkan untuk mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Namun dari semuanya itu ada aspek penting yang harus diberikan kepada anak didik kita sebagai bekal anak didik kita yaitu kemampuan komunikasi, kemampuan personal dan interpersonal, serta penanaman karakter yang kuat pada anak didik. Proses semuanya itu tetap mengacu kepada delapan aspek standar nasional pendidikan seperti yang tercabtum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Bab IX tentang Standar Nasional Pendidikan, yang operasionalnya dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
            Dengan demikian ke depan kita akan melihat pilihan calon peserta didik terhadap sebuah sekolah disesuaikan dengan bakat, potensi dan minat mereka masing-masing. Anak memilih sebuah sekolah karena dia yakin bisa mengembangkan bakat yang dimilikinya. Pada akhirnya setiap anak akan merasa bangga terhadap sekolahnya karena mereka menjadi bagian dari sekolah unggulan di bidangnya.
            Negara besar seperti Amerika menjadi besar tidak hanya karena dukungan dari Thomas Alva Edison, Albert Einstein, atau ilmuwan dan teknokrat saja, tetapi juga mendapat sumbangan besar dari orang-orang seperti, Abraham Lincoln, John F. Kennedy, Martin Luther King Jr., Mark Twain, Andi Warhol, Steven Spielberg, Michael Jackson, Michael Jordan, Kolonel Sanders, Jenderal Mc. Arthur, Alvin Toffler, John Naisbitt, Steve Jobs,  Bill Gates, dan Oprah Winfrey.
            Indonesia mempunyai potensi untuk menjadi negara besar, dengan memberikan kesempatan yang luas bagi warganya untuk mengembangkan potensi positif yang dimilikinya. Hal ini hanya dapat diwadahi oleh sekolah-sekolah yang mengakomodasi pengembangan setiap bakat dan potensi beragam yang dimiliki oleh anak didiknya. 

(Dimuat di Forum Guru HU PIkiran Rakyat,Sabtu 11 Februari 2012)

Dilema Sekolah Kejuruan

Surat Pembaca di Pikiran Rakyat,Senin tanggal 20 Juni 2011, tentang keluhan seorang siswa SMK tentang biaya sekolah, mengingatkan betapa kita masih menghadapi persoalan klasik yang cukup pelik dalam bidang pendidikan.
            Alasan calon siswa dan/atau orang tua untuk memilih sekolah kejuruan adalah agar mudah mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah nanti. Memang dengan bekal keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di SMK, para siswa ditargerkan lebih mudah mengisi lowongan pekerjaan yang ada, karena sudah memiliki kompetensi  yang disyaratkan di dunia usaha dan dunia industri.
            Berdasarkan pengamatan selama ini, mereka yang memasuki SMK sebagian besar mempunyai latar belakang ekonomi keluarga menengah bawah. Bagi mereka melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau kuliah adalah sesuatu hal yang sangat memberatkan, kalau tidak mau dikatakan sebagai sesuatu hal yang mustahil. Dengan harapan lebih cepat mendapatkan pekerjaan, mereka lebih memilih sekolah kejuruan. Sebuah keterkaitan yang sangat bermakna.
            Pemerintah beberapa tahun belakangan juga dengan gencar mempromosikan sekolah kejuruan dengan jargon SMK Bisa! Bahkan mengarahkan agar perbandingan jumlah SMK lebih banyak dibandingkan dengan SMA.  
            Namun demikian ada masalah yang sering dihadapi oleh siswa sekolah kejuruan, seperti kasus di awal tulisan ini.  Kalau kita membandingkan biaya investasi dan biaya operasional yang dikeluarkan antara sekolah kejuruan (SMK) dengan sekolah umum (SMA), pada keadaan yang relatif sama, akan sangat berbeda. Pada sekolah kejuruan ada biaya investasi pada penyediaan laboratorium, bengkel kerja atau tempat praktik siswa sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing. Konsekuensi logisnya adalah timbulnya biaya operasional dari setiap praktikum yang dikerjakan, karena disitulah kemampuan dan ketrampilan siswa diasah agar siap memasuki dunia kerja.  Disamping itu sekolah harus mengalokasikan biaya untuk penempatan praktik kerja industri (prakerin) dan uji kompetensi. Dengan demikian sekolah kejuruan akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang cukup besar, kalau kita ingin menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya.
            Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dinyatakan bahwa peserta didik berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya  tidak  mampu membiayai pendidikannya, dengan mengingat bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayatnya.
            Namun perlu juga diingat bahwa Pemerintah dan masyarakat juga mempunyai tanggung jawab dalam pendanaan pendidikan.  Jadi masalah pendidikan, khususnya SMK bukan hanya masalah antara Siswa-Orang tua dan Sekolah, khususnya sekolah swasta, juga masalah yang harus dipecahkan bersama dengan melibatkan pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus  mengalokasikan anggaran yang lebih besar lagi bagi pengembangan sekolah kejuruan. Kalau perlu mengubah kewajiban utang luar negeri kepada negara lain menjadi dana hibah bagi pengembangan pendidikan. Pemerintah sangat berkepentingan karena berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang yang berimbas pada kemajuan dan kemakmuran bangsa. Di lain pihak, sekolah dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan terbuka dengan melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan dunia usaha dan dunia industri, mengembangkan unit produktif yang ada, dan mencari lebih banyak bea siswa dan bantuan lainnya baik dari instansi pemerintah, BUMN, atau Perusahaan Swasta melalui program tanggung  jawab sosial perusahaan (CSR/corporate social responsibility).
            Keinginan keluarga tidak mampu secara ekonomi untuk memasuki sekolah kejuruan agar untuk memperoleh keterampilan supaya dapat  memperoleh pekerjaan yang layak, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup mereka, tentunya tidak boleh terkendala oleh keadaan apapun. Namun demikian tampaknya antara Pemerintah, Orangtua,Sekolah, dan masyarakat perlu duduk bersama untuk menyampaikan semua permasalahan yang sedang dihadapi.Melalui komunikasi diharapakan muncul jalan keluar terbaik yang bisa dilakukan.
Masalah pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, karena menyangkut keberlangsungan masa depan bangsa. Apabila tanggung jawab ini dapat kita pikul bersama-sama secara proporsional, maka tidak akan muncul lagi dilema yang sering dihadapi dunia pendidikan, khususnya sekolah menengah kejuruan. Insyaallah.


(Dimuat di Forum Guru HU Pikiran Rakyat, Selasa,5 Juli 2011)

Rabu, 25 Januari 2012

Tragedi Tugu Tani

Kecelakaan maut yang terjadi di sekitar Tugu Tani Jakarta pada hari Minggu tanggal 22 Januari 2012 dengan menewaskan 9 orang pejalan kaki, telah mengingatkan kita bahwa maut dapat menghampiri kita kapanpun, dimanapun dan dengan jalan apapun. Kematian adalah sebuah keniscayaan, yang akan dihadapi oleh setiap manusia. Kematian adalah pintu gerbang dari kehidupan fana menuju kehidupan yang abadi. Apakah kita siap menghadapinya ? Siap atau tidak siap bukan menjadi halangan bagi malaikat maut untuk menjalankan tugasnya.
Setiap kejadian selayaknya menjadi bahan tafakur bagi kita. Setiap kejadian seharusnya menjadi bahan pembelajaran bagi kita agar senantiasa berbuat lebih baik lagi. Senantiasa meningkatkan kesadaran untuk lebih mendekatkan diri kepada Alloh  SWT, dengan jalan secara istiqomah memperbaiki kualitas ibadah kita.
Setiap kejadian seringkali menghadirkan dua sisi yang berbeda. Sisi baik dan sisi jelek. Namun keduanya bisa menjadi bahan introspeksi bagi kita. Dari sisi baik, kita bisa belajar dari kebaikannya untuk lebih memperkaya ibadah kita, dari sisi jelek kita belajar dari kejelekannya untuk menghindarkan diri dari perbuatan yang sama jeleknya atau lebih jelek lagi.
Mudah-mudahan para korban mendapatkan tempat yang layak di sisi Alloh SWT sesuai dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan selama hidupnya. Bagi pelaku, mudah-mudahan mendapatkan hukuman yang adil dan setimpal dengan perbuatannya, disamping mendapatkan hidayah agar dikemudian hari menjadi manusia yang lebih baik dan banyak berbuat bagi orang banyak Walaupun hari ini kena batunya, lebih baik dikumpulkan saja untuk kemudian dibuat bangunan yang bisa bermanfaat buat banyak orang. Wallahu'alam.

Kamis, 19 Januari 2012

Masih ada anggota DPR yang "goblog"

Berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kursi, maka setelah didapat, yang ada dibenak pikiran sebagian anggota DPR adalah mendudukinya. Agar nyaman, ya tentunya harus kursi yang terbaik, bila perlu dengan mengimpor dari negerinya Angela Merkel. Tidak masalah harganya Rp 24 juta satu buah, yang mungkin setara dengan kursi untuk sekolah di pinggiran untuk beberapa kelas.
Inilah yang menjadi  biang persoalan saling tuding antara Setjen dan Banggar DPR. Logikanya Setjen tidak mungkin membuat kebijakan yang menyimpang dari aturan tanpa arahan atau petunjuk dari DPR, karena mereka hanya pelaksana, bukan pembuat kebijakan. Ya, itulah watak sebagian anggota DPR yang belum bisa keluar dari pola-pola lama menyimpang yang memanfaatkan aji mumpung, yang ujung-ujungya untuk kepentingan dan kesenangan pribadi, sambil mencari rente atau sampingan fulus untuk kantong pribadi.
Kondisi ini menandakan bahwa mereka masih belum menyadari posisi yang pas dan pantas buat mereka. Kalau menyitir ungkapan Dalang Asep Sunandar Sunarya dalam sebuah lakon Wayang Goleknya, mereka masih "Goblog", Kata goblog mengacu kepada kondisi yang "gogoblogan" artinya masih longgar atau belum pas. Ibarat memakai baju yang longgar, sehingga "gogoblogan", alias gedean. Sampai kapan kondisi ini akan berubah ? Hanya Tuhan yang tahu. Wallahu alam.

Selasa, 17 Januari 2012

Bubuka

Kahayang mah nyieun blog teh ti baheula, ngan dalah dikumaha atuh da sok kapapalerkeun. Komo mun seug loba hanca pagawean atawa kasibukan lianna. Ngahaja dina munggaran nyieun blog ieu kuring make basa sunda, kulantaran aya hiji kareueus kuring pikeun ngamumula basa nu mimiti diajarkeun ku kolot kuring.
Ngahaja kuring mere ngaran ieu blog teh "Wangkongan Kuring", nu ngandung maksud hasil gunemcatur  kuring jeung diri kuring pribadi, kulawarga, jeung lingkungan kuring nu ditulis dina ieu blog. Tangtu bae sabisa-bisa bakal ditambahan ku potret atau film nu merenah, sangkan teu garing teuing.
Sakieu bae dina catetan nu munggaran mah, itung-itung bubuka jeung pangwanoh. Cag

Plagiat ala calon Profesor

Pengajuan calon guru besar dari Universitas Pendidikan Indonesia ke Dirjen Pendidikan Tinggi ditolak. Alasan penolakan karena salah satu dar...